Category Archives: dosen

“Speaking in God’s Name: Islamic Law, Authority, and Women”)*

Nov 28, 17
admin
No Comments

HERMENEUTIKA KHALED ABOU EL FADL
dalam Karyanya
“Speaking in God’s Name: Islamic Law, Authority, and Women”)*

Oleh: Nur Zaini

A. Pendahuluan
Hermeneutika yang merupakan teori filsafat mengenai interpretasi makna teks al Qur’an, tidak lagi merupakan istilah yang diberikan oleh peneliti luar (Outsider). Namun istilah tersebut telah digunakan oleh orang Islam sendiri (insider). Penggunaan istilah tersebut tidak sekedar penggunaan istilah tetapi juga membawa konsekwensi pada perumusan metodologi.

Hermeneutika al Qur’an kontemporer sangat memperhatikan struktur triadik – penulis, teks dan pembaca-. Berbeda dengan yang dilakukan hermeneutika al Qur’an klasik yang kurang begitu memperhatikan struktur tiradik dan hanya bertumpu pada penulis, yakni Allah, sehingga makna berpusat pada penulis.

Apa yang digagas oleh intelektual muslim akhir-akhir ini adalah pemberdayaan teks sebagai pusat makna, seperti yang dilakukan Arkoun dan Abu Zaid; atau pembaca sebagai pusat makna, seperti Fazlur Rahman, Hasan Hanafi
dan Aminah Wadud-Muhsin. Dalam kontek pemberdayaan pembaca ini muncul hermenutika yang dikonstruksi untuk maksud-maksud tertentu, seperti untuk pembebasan rakyat dari ketertindasan, membangun hubungan harmonis antar agama dan menghilangkan ketidak-adilan gender. Pandangan dan pengalaman hidup serta situasi kekinian pembacalah menuntut upaya pembacaan ulang atas teks keagamaan.1

Adalah Khaled Aboul Fadl yang akhir-akhir ini muncul dengan menawarkan gagasan hermenutikanya, baik secara teoritis maupun metodologis. Apa yang digagas oleh Abou El Fadl ini, secara langsung maupun tidak, memiliki kemiripan dengan apa yang telah di gagas oleh Ricour di Barat. Karena pemikiran Ricour dapat dianggap menjembatani perdebatan sengit dalam peta hermeneutika antara tradisi metodologis dan tradisi filosofis.2

Tawaran hermeneutika al Qur’an Abou El Fadl yang paling menonjol dalam dirinya adalah bagaimana hermeneutikanya, ia gagas dari paradigma hukum Islam dan hermenutikan yang ia gagas tidak hanya apliktif dalam penafsiran al Qur’an, tetapi juga pada teks-teks Islam lainya. Inilah yang membuatnya beda dengan hermoneut atau pemikir islam lainya yang masih berkutat pada hermenutika al
Qur’an.

B. Biografi Abou El Fadl

Khalid M. Abou El Fadl adalah seorang professor hokum Islam di fakultas hokum UCLA, Amerika Serikat. Lulus dari Yale dan Princeton, sebelumnya menggeluti studi keislaman di Kuwai dan Mesir. Ia dilahirkan di Kuwait pada tahun 1963, tumbuh berkembang hingga remaja di Kuwait dan Mesir. Ayahnya Medhat Abou El Fadl, adalah seorang ahli Hukum Islam dan menjadi guru pertamanya untuk melawan segala bentuk penindasan. Ibunya, Afaf El Nirm, setiap pagi membangunkannya dengan lantunan ayat-ayat al Qur’an.

Abou El Fadl dibesarkan dengan suasana sosial yang tidak menentu, baik Karena pergolakan politik, perang, terror dan ancaman mewarnai hari-harinya di masa kanak-kanak hingga remaja, hingga akhirnya ia bergabung dengan
kelompok Wahabisme, yang ia anggap menawarkan solusi. Ia sangat tekun dan taat pada ajaran teologi dan moral yang kaku dari Wahabi.

Dia belajar tentang hokum hingga mendapatkan sertifikasi dan kualifikasi sebagai seorang Syaikh. Pemikiran fundamentalisnya bergeser ke demokratis ketika ia belajar di sekolah menengah. Ia juga menjadi target operasi kepolisian Mesir karena tulisannya tentang Pro-Demokrasi.

Dia belajar di Yale Low School sampai tamat kemudian mendapat gelar sarjana hokum dari University of Pennsylvania. Ia menjadi praktisi hokum imigrasi dan investigasi di Amerika Serikat an Timur Tengah.3 Ia bekerja di UCLA School of Low hingga sekarang. Dia mengajar tentang HAM, Hukum Imigrasi dan Hukum Internasional. Dia juga mendedikasikan hari-harinya untuk memperjuangkan nilai-nilai pluralisme, egalitarianism, demokrasi, kesetaraan gender dan keadilan sosial.4
C. Tawaran Hermeneutika al Qur’an Abou El Fadl

Abou El Fadl hendak menghidupkan kembali tradisi hukum Islam pramodern yang cukup dinamis. Baginya, tradisi Islam klasik yang dinamis dan plural masih memiliki relevansi dengan realitas yang dialami umat Islam pada masa modern ini. Pada Tradisi Islam klasik, diskusi tentang persoalaln otoritas mujtahid, keberwenangan sumber dan resiko dispotisme intelektual (istibdad bi al-ra’y) menjadi perdebatan yang sengit. Namun diskusi tentang hal tersebut sudah jarang yang memperdebatkan. Dari sinilah Abou El Fadl menginginkan penggagasan dan perumusan kembali dalam khazanah pemikiran Islam, yaitu sesuatu yang terlupakan (Forgotten). 5 Kategori ini memiliki kesamaan dengan apa yang dinyatakan Muhammad Arkon dengan istilah I’impensable / unthinkable (suatu yang tak tepikirkan)
Untuk mengetahui tawaran hermeneutika al Qur’an Abou El Fadl, perlu kiranya untuk mengkaji ide-ide gagasannya yang berkaitan dengan hermenutika al qur’annya.
1. Konsep Teks
Hakikat teks bagi sebuah gagasan hermeneutika sangatlah fundamental,
bahkan segala bentuk kerja hermeneutika selalu diderivasikan dari sesuatu yang
fondasional, yakni hakikat teks7. Masing-masing hermeneut kontemporer memiliki
karakter yang khas dalam mengkonsturksi konsep tentang teks.
Teks, oleh Abou El Fadl digunakan untuk menyebut sumber-sumber tertulis
kehendak Tuhan, yang terdiri dari al Qur’an dan tradisi-tradisi Nabi yang tercatat.
Secara prinsipil teori teks yang coba dibangun oleh Abou El Fadl dapat
dikategorikan dalam dua kategori, yaitu: teori umum, kategori ini yang diasumsikan
menjadi dasar epistimologi untuk memahami konsep teks dalam kesarjanaan
Islam secara umum, dan teori khusus, yang membicarakan konsepsi tentang teksteks
Islam secara parsial, tetapi tetap mendapatkan sinaran dari yang pertama
tanpa mengabaikan karakter khusus yang dimiliki setiap teks, seperti teks al
Qur’an.
Ada beberapa kategori dalam mengkonsepkan teks, yaitu:
a. Definisi teks, Abou El Fadl mendefinisikan teks sebagai “ sekelompok entitas
yang digunakan sebagai tanda, yang dipilih, disusun dan dimaksudkan oleh
pengarang dalam konteks tertentu untuk mengantarkan makna kepada
pembaca.8 Di sini, huruf, kata dan angka bisa menjadi tanda jika ia tersusun
dari entitas yang mengandung makna. Ungkapan, kalimat dan paragraph
adalah teks yang bersifat kontektual.9
b. Teks dan bahasa. Teks selalu bersandar pada sebuah bahasa. Namun bahasa
yang terdiri dari huruf, kata, frasa, dan kalimat bergantung pada sistem symbol,
dimana symbol ini akan melahirkan sebuah gambaran dan emosi khusus dari
5 Abou El Fadl, Speakin in God’s Name: Islamic Law, Authority, an Women, (England: Oneword
Publications, 2003),96.
6 Arwan Hamidi, Dinamisasi Penafsiran Al Qur’an, (Ponorogo, Lakpesdam-NU),84.
7 Moch. Nur Ichwan, ..61-62.
8 Abou El Fadl, Melawan Tentara Tuhan: Yang berwenang dan Yang sewenang-wenang dalam
Islam. Terj. Kurniawan Abdullah, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2003), 213.
9 Abou El Fadl, Speaking…, 102-103.
4
pembacanya yang memungkinkan bisa berubah sepanjang waktu. Ketika
seorang pengarang menggunakan media bahasa dengan semua aturan dan
batasannya, pada dasarnya ia menyerahkan maksudnya terhadap teks.
Padahal, pengarang mungkin mengungkapkan A, tetapi bahasa yang
digunakan mungkin menyampaikan AA, AB atau bahkan Z kepada
pembacanya. Sehingga teks sendidri hanyalah merupakan perkiraan yang
paling mendekati maksud pengarang, terutama bahasa sendiri tidak tetap dan
dapat berubah atau dengan kata lain bahasa bersifat semi otonom. Bahasa
menambahkan aturan dan batasannya sendiri dan membentuk serta
menyalurkan makna.10
c. Maksud Tekstual, Teks memiliki tingkat otonomi tersendiri ketika pengarang
sudah mengapresiasikan maksudnya di dalamnya. Hal ini yang kemudian
memunculkan konsep “maksud tekstual”. Yang dimaksud dengan “maksud
teks” adalah teks mempunyai sebuah pilihan yang bebas dari maksud penulis
dan pembaca. Pilihan ini tewujud dalam symbol yang digunakan dan
mekanisme bahasa termasuk di dalamnya struktur, bentuk dan peran sosio
historis yang dimainkan oleh teks. Hal ini merupakan pemberian peran integral
kepada teks, mirip dengan peran pengarang dan pembaca.11
d. Kepengarangan Teks, Abou El Fadl mengagas keberagaman pengarang dalam
sebuah teks. Teks tidak hanya dibuat oleh pengarang yang namanya tercantum
dalam cover buku saja. Pada kenyataannya, teks diproduksi oleh banyak
intelektual dan nilai sosial normative yang membentuk pemikiran si penulis.12
Bahkan lawan baca sebuah teks juga ikut ambil bagian dalam kepengarangan.
Sehingga sebuah teks bisa memiiki beragam pengarang, yaitu “pengarang
historis” yang menciptakan teks, “pengarang produksi” yang mengelola dan
mencetak teks, “pengarang revisi” yang menyuting, mengubah dan
menuangkan kembali teks, dan “pengarang interpretasi” yang menerima dan
menciptakan makna dari lambang yang membentuk teks.13
e. Teks dan Nash. Konsep teks dan nash dipandang berbeda oleh Abou El Fadl.
Menurutnya, Nash baik al Qur’an maupun as Sunnah diperlakukan sebagai
entitas terpadu, simetris dan terstruktur yang maknanya ditentukan oleh
pengarangnya saja. Peran pembaca selain memecahkan makna adalah
menemukan pengarangnya. Klaim kepemilikan pengarang nash dipandang total
10 ibid, 90.
11 ibid, 8.
12 Abou El Fadl, Melawan, 105.
13 Abou El Fadl, Speaking…, 135.
5
dan absolute. Di sini dapat dipahami bahwa istilah nash tidak membuka ruang
bagi negosiasi makna karena makna hanya ditentukan pengarangnya,
sedangkan teks memungkinkan bagi negosiasi dalam mengkonstruk makna.14
f. Karakteristik teks. Ada dua karakter tek menurut Abou El Fadl, yaitu teks-teks
terbuka, yang bekerja pada level pemunculan gagasan dan perangsang
aktifitas penafsiran yang konstruktif dan teks-teks tertutup, yang menentukan
dan membatasi aktivitas penafsiran secara ketat. al Qur’an dan as Sunnah
masuk dalam karakter yang pertama.15
Konsepsi tekstual di atas merupakan prinsip dasar bagi Abou El Fadl dalam
menggagas konsep teks dalam Islam (al Qur’an). Abou El Fadl memandang al
Qur’an sebagai teks utama dalam Islam, dan merupaka firman Tuhan yang abadi.
Al Qur’an merupakan kitab tunggal dimana dengan melaluinya, Tuhan
mentransformasi umat Islam menjadi sebuah peradaban buku.16
2. Teks dan Penetapan Makna
Kesarjanaan al Qur’an klasik sudah mencoba mengembangkan kaidah dan
metode untuk memecahkan makna dalam teks. Sehingga muncul ilmu-ilmu al Qur’an
(‘Ulumul Qur’an). Mereka melakukan upaya menarik kaidah-kaidah yang telah
disediakan oleh struktur dan karakter bahasa Arab untuk memahami maksud
Pengarang dibalik penggunaan bahasa. 17 Interpretasi al Qur’an yang dilakukan
mufassir klasik senantiasa berambisi untuk dapat mengetahui maksud Tuhan yang
asli, ketika Tuhan merefleksikan diri-Nya dalam teks al Qur’an. Maksud asli tersebut
dipandang sebagai suatu yang “menentukan makna”. Gagasan ini yang telah
menancap lama dalam ingatan kaum Muslim18.
Abou El Fadl agaknya tidak sepakat dengan gagasan tersebut, tapi baginya
gagasan tersebut harus tetap dihormati, mengingat al Qur’an adalah teks yang
memiliki otonimi tersendiri. Menurutnya ada tiga elemen yang berperan dalam
menentukan makna suatu teks, yaitu peran pengarang, teks dan pembaca atau
sering disebut dengan struktur triadic.19
Pertama, makna ditentukan oleh pengarang atau setidaknya upaya memahami
maksud dari pengarang. Pengarang teks memformulasikan maksudnya ketika ia
membentuk sebuah teks, dan pembaca harus berusaha memahami maksud
14 Ibid, 103.
15 Abou El Fadl, Melawan, 210.
16 Abou El Fadl, Speaking…, 100.
17 Ibid, 119.
18 Ibid, 125
19 Ibid
6
pengarang. Untuk teks al Qur’an, pengarang (Tuhan) hanya mengawali proses
makna dengan menempatkan teks kedalam alur interpretasi, tapi Tuhan tidak
menentukan makna tersebut. 20 Al Qur’an sebagai media Tuhan untuk
mengungkapkan maksud-Nya yang terikat dengan kontek historis, pembaca dan
bahasa.
Kedua, makna ditentukan oleh teks. Al Qur’an adalah teks yang memiliki
otonomi tersendiri. Ia memiliki kaidah-kaidah bahasa yang bisa digunakan untuk
memahami dan menentukan makna. Namun bahasa adalah media manusia yang
tidak sempurna. Sehingga bahasa tidak dapat menampung keseluruhan maksud
Tuhan. Teks (al Qur’an) hanya mewujudkan petunjuk-petunjuk kehendak Tuhan21.
Makna teks ini pun bergantung pada sejarah dan konteksnya.22
Ketiga, penetapan makna dilakukan pembaca. Teks al Qur’an tidak akan
bermakna jika tanpa peran pembaca. Dia tentunya sudah membawa konstruk
psikologis yang terbentuk dari berbagai asumsi23, baik disadari maupun tidak. Asumsi
ini sedikit banyak akan ikut mempengaruhi proses pemahaman dan penafsiran. 24
Asumsi tersebut merupakan konstruk tradisi yang bersifat dialektis dan berkembang.
Sehingga dalam proses pembacaan terhadap teks, pembaca membawa
subyektifitas.
Ketiga unsur tersebut terbukti berperan penting dalam menentukan makna.
Makna tidak bisa ditentukan hanya oleh pengarang, teks atau pembaca saja.
Diantara ketiganya terjadi proses yang kompleks, interaktif, dinamis dan dialektis.
Tidak ada unsur yang dominan, begitu pula sebaiknya tidak ada unsur yang menjadi
sampingan dalam proses interprestasi. Makna dipandang sebagai hasil interaksi
yang kompleks antara pengarang, teks dan pembaca. Di sana makna diperdebatkan,
dinegosiasikan dan terus mengalami perubahan. Proses negoisasi antara ketiga
unsur tersebut, maka terjadi “dialektika”. Ada tesis, anti-tesis, dan akhirnya sintesis.
Sintesis ini tidak final atau permanen tapi sementara hingga ada tesis baru yang
menumbangkannya. Hal ini yang menjadikan makna yang diproduksi bersifat
20 Ibid 129.
21 Ibid, 128.
22 ibid
23 Beberapa asumsi dasar yang dibawa oleh pembaca ketika menafsirkan al Qur’an, yaitu:
asumsi berbasis nilai yang dibangun di atas nilai normative yang mendasar, asumsi metodologis terkait
dengan langkah dan sarana yang diperlukan untuk mencapai tujuan interpretasi, asumsi berbasis akal
memperoleh eksistensi dari logika, dan asumsi berbasis iman yang lahir dari sebuah hubungan
tambahan antara pembaca dan tuhan. Lihat, Abou El Fadl, ibid, 154-157.
24 Ibid, 129-132.
7
subyektif dan tidak akan obyektif, serta akan terus terjadi perubahan dan
perkembangan makna teks.25
Proses dialektika tiga unsur dapat digambarkan sebagai berikut:
Pengarang
Makna
Teks Pembaca
Bagan: Struktur Triadik
3. Metode Interpretasi
Metode interpretasi yang dikembangkan oleh Abou El Fadl adalah interpretasi
dinamis (lively interpretative), yakni penafsiran seorang mufassir tidak hanya
memahami makna awal ketika teks itu berdialog dengan penerima awalnya, tetapi
mencoba dengan makna asal tersebut menggali makna teks dalam konteks kekinian.
Ini berarti bahwa muffasir harus menempuh dua proses, mengenali makna asal teks
dan kemujdian dijadikan dasar referensi untuk memaknai teks dalam konteks
kekinian.
Alasan perlunya “memahami makna (meaning) asal teks al Qur-an dan
kemudian mencoba memahami maknanya pada konteks sekarang” karena al Qur’an
adalah teks historis yang diwahyukan karena kejadian tertentu. Allah mewahyukan al
Qur’an dengan bahasa yang memiliki kesejarahannya sendiri, yang tidak bisa
terlepas dari ruang dan waktu tertentu. Meskipun demikian, tidak berarti makna
tekstualnya tidak mampu melampaui konteksnya. Sebuah teks historis dapat dibaca
untuk melihat implikasi atau makna tambahan (significance) guna diterapkan pada
masa kekinian.26 Untuk mengkaji dinamika antara teks dan konteks historisnya, teks
harus dibaca dengan sebuah pemahaman yang akurat tentang kaitan antara teks dan
konteks historisnya.27
Dalam proses interpretasi dinamis (lively interpretive), pembaca/penafsir
sebaiknya menggunakan counterfactual yaitu membayangkan apa yang dikehendaki
oleh teks di masa lalu jika ia kembali digubah di masa kini. Seorang
pembaca/penafsir yang cermat akan mempertimbangkan fakta bahwa sebuah teks
25 Ibid, 7.
26 Ibid, 126.
27 Ibid.
8
muncul pada masa lalu dan masa sekarang. Sebuah teks masa lalu menyampaikan
makna atau serangkaian makna dalam konteks masa lalu. Memahami makna sebuah
teks masa lalu akan membantu penafsir menghindari bentuk anakronisme yang
dipandang sebagai proyeksi oportunistik dari subyektivitas penafsir atas sebuah
teks.28
Penafsir perlu memahami kaidah bahasa sebuah teks dalam konteks masa
lalunya, “bukan untuk memahami makna sebenarnya dari sebuah teks, tapi untuk
memahami dinamika teks dengan penerima awalnya”. Misalnya memahami sebuah
teks yang memiliki dimensi ketuhanan, mengkaji teks tersebut berdasarkan sejarah
merupakan bagian pengakuan terhadap integritas teks. Namun diantara bentuk
pengakuan atas integritas teks adalah mengakui bahwa teks memiliki daya hidup
yang konsisten dan berkelnjutan. Jika Tuhan benar-benar berbicara untuk semua
masa dan generasi, maka teks al Qur’an tidak dapat dipahami hanya sebatas konteks
historisnya saja. Hasil pemahaman pembaca/penafsir kepada dinamoka teks di masa
lalu selanjutnya digunakan untuk menganalisis dinamika teks di masa sekarang.29
Secara sederhana dapat dipahami bahwa proses negosiasi makna yang
dilakukan oleh pembaca, teks dan pengarang di masa sekarang, melibatkan
konstruksi makna masa lalu yang juga merupakan hasil dari proses negosiasi antara
penerima awal, teks dan Pengarang. Selain melibatkan konstruksi makna masa lalu,
proses interpretasi juga melibatkan konstruksi makna yang menyejarah, perjalanan
makna sepanjang sejarah yang membentang dari masa lalu hingga sekarang yang
melewati berbagai generasi, tradisi dan komunitas interpretasi.
4. Prinsip-prinsip Interpretasi
Problem Hermeneutis setelah proses memahami dan menafsirkan teks adalah
proses penyampaian dan pengkomunikasian pemahaman terhadap teks. Mufassir
memiliki otoritas untuk menafsirkan dan menyampaikan maksud Tuhan dalam teks.
Otoritas yang dimiliki oleh mufassir (agen khsus) “berifat persuasif”, artinya lebih
disebabkan faktor moral, bersifat kultural dan tanpa paksaan, dan tidak bersifat
“Otoritas Koersif”, yaitu otoritas yang bersifat structural dan cenderung memaksa
agen umum (masyarakat) untuk mengakui agen khusus. Agen khusus dengan
otoritas yang bersifat persuasif ini disebut “memangku otoritas” (being in authority)
dan “memegang otoritas” (being an authority). 30 Otoritas agen khusus juga harus
28 Ibid.
29 Ibid, 126.
30 Ibid, 18-23
9
dijaga dari kerusakan, dan penyelewengan, baik penyelewengan penasiran maupun
penyelewengan penyampaian.
Untuk menghindari penyelewengan otoritas tersebut, Aboul Fadl mengajukan
lima syarat keberwenangan yang harus dipenuhi agen khusus ketika menerima
otoritas. Lima syarat ini oleh Abou El Fadl juga disebut dengan prinsip-prinsip
penafsiran. Kelima syarat yang dimaksud adalah:
a. Kejujuran (honesty): dalam segala persoalan, mufassir harus bersikap jujur dalam
memahami perintah Tuhannya yang tertuang dalam teks. Dia tidak akan
menyembunyikan dengan sengaja atau mengganti bunyi perintah Tuhannya. Dia
harus menjelaskan semua yang dipahaminya dari teks termasuk menjelaskan
asumsi dasar yang dimilikinya ketika akan menafsirkan teks.
b. Kesunguhan (Diligentce): mufassir mengerahkan segenap upaya rasional dalam
menemukan dan memahami petunjuk-petunjuk yang relevan berkaitan dengan
persoalan tertentu.
c. Kemenyeluruhan (Comprehansivenes): mufassir harus menyelidikai perintah
Tuhannya secara menyeluruh dan harus mempertimbangkan semua perintah
yang relevan serta menemukan alur pembuktian tertentu.
d. Rasionalisme (Reasonabless): mufassir harus melakukan penafsiran dan
menganalisis teks secara rasional. Dia tidak dibolehkan melakukan penafsiran
yang berlebihan (over interpretation) terhadap teks dengan memasukkan teks fiktif
yang tidak konsisten.
e. Pengendalian diri (self Restraint): Mufassir harus menunjukkan kerendahan hati
dan pengendalan diri dalam menjelaskan kehendak Tuhannya. Ini menunjukkan
bahwa mufasir harus mengenali batasan peran yang dimilikinya agar tidak
melampaui batas kewenangannya.31
D. Aplikasi Hermenutika Abou El Fadl
Metode yang diwarkan oleh Abou El F adl dalam menafsirkan teks yang ia
sebut sebagai “interpretasi dinamis” (lively interpretative) adalah proses menggali
konteks kekinian (significance) dari makna (meaning) asal sebuah teks, atau
dengan kata lain membahas dampak (implication) dan kedudukan penting
(significance) dari makna asal sebuah teks.32
Sebagai gambaran aplikasi metode yang ditawarkan Abou El Fadl. Ia
menyatakan konsep dalam al Qur’an “saling mengenal” (lita’arafu) dalam kontek
modern merupakan suatu elemen dasar yang dibutuhkan untuk “kerja sama sosial
31 Ibid 55-57
32 Ibid 126.
10
dan saling membantu” guna menggapai keadilan. Hal ini berarti “elemen dasar
kerja sama sosial dan saling membantu menjadi implikasi dan signifikansi dari
makan asal (meaning) “supaya saling mengenal”. Mungkin juga bahwa al ta’arafu
merupakan landasan pemikiran bagi etika membuka diri untuk belajar kasih saying
dan mengajarkannya33. Sehingga ada signifikan dan implikasi yang lain dari al
ta’arafu. Jika digambar dalam bentuk bagan:
Lively interpretive
“Supaya saling mengenal” “elemen kerjasama sosial & saling membantu”
“ etika membuka diri untuk belajar kasih sayan”
Contoh lain adalah ketika ia mencoba memahami persoalan jizyah, yang
baginya hanya merupakan solusi fungsional yang kontekstual alias tidak
permanen dan tidak ajeg. Kesimpulan ini ia dapat dari asumsi metodologis yang
dimilikinya tentang perhatiannya pada situasi historis. Menurut Abou El Fadl,
ketika al Qur’an diwahyukan, memungut pajak pada kelompok asing sudah wajar
dilakukan, baik di dalam maupun di luar masyarakat Arab. Berdasar pada praktek
sejarah tersebut, pungutan pajak diberlakukan pemerintahan musli kepada nonmuslim
sebagai bayaran atas perlindungan. Jika Negara muslim tidak bisa
melindungi maka pajak tidak diberlakukan lagi sebagaiman dipraktekkan Kholifah
Umar bin Khotob ketika tidak bisa melindungi kelompok Nasrani dari serangan
Romawi Timur.34
Dua contoh di atas kiranya cukup untuk melihat bagaimana aplikasi metode
hermeneutika Abou El Fadl yang dikenal sebagai ”lively interpretive”.
E. Penutup
Abou El Fadl sebagi seorang ahli hokum Islam telah mengagas legal
hermeneutika dalam mengembangkan kajian keislaman. Gagasannya merambah
kepada hermenutika al Qur’an yang merupakan sentral rujukan dalam hokum
Islam.
33 Abou El Fadl, “Islam and Chalenge of Democracy” dalam Boston review: April-Mey 2003 Issue
(online), (http://www.scholsrofthehouse.org/isandchofdeb.html)
34 Ibid
(Teks)
Lita’arafu
Makna sekaran
(Significance& Implication)
Asal makna
(meaning)
11
Dalam hermeneutika al Qur’an, ada tiga kemungkinan yang menentukan
makna sebuah teks (al Qur’an) yaitu pembaca, teks dan pengarang. Ketiganya
berdialektika dan bernegoisasi dalam menentukan makna. Ketiganya meiliki
horizon tersendiri yang mempengaruhi dalam proses menentukan makna.
Seorang pembaca harus melakukan interpretasi dinamis (lively
interpretive), yaitu mencoba memahami makna masa lalu (meaning) dan
kemudian dijadikan refernsi untuk mengetahi makna tambahan di masa sekarang
(significane dan implication). Atau dalam bahasa Aboul Fadl, seorang pembaca
harus melakukan counter factual, yaitu membayangkan apa yang dikehendaki aleh
teks di masa lalu dan digubah di masa kini.
Bagi penafsir atau agen khusus disyaratkan lima hal dalam menafsirkan
teks dan menjaga agar dia tetap otoritatif. Lima syarat atau prinsip itu adalah:
kejujuran (honesty), kesungguhan (diligence), kemenyeluruhan
(comperhensivenes), rasionalitas (reasonableness), dan pengendalian diri (selfrestraint).
F. Daftar Pustaka
“About Khaled Abou El Fadl ” dalam scholar of the house (online), (http./www.
scholar ofthehouse.org/ishictrib.html).
Abou El Fadl, Speakin in God’s Name: Islamic Low, Authority, an Women,
(England: Oneword Publications, 2003)
———-, “Islam and Chalenge of Democracy” dalam Boston review: April-Mey 2003
Issue (online), (http://www.scholsrofthehouse.org/isandchofdeb.html)
———-, Melawan Tentara Tuhan: Yang berwenang dan Yang sewenang-wenang
dalam Islam. Terj. Kurniawan Abdullah, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu
Semesta, 2003)
Arwan Hamidi, Dinamisasi Penafsiran Al Qur’an, (Ponorogo, Lakpesdam-NU)
Josef Blaicher, Hermeneutika Kontemporer: Hermeneutika sebagai Metode,
Filsafat dan Kritik, terj. Ahman Norman Permata (Yogyakarta: Fajar
Pustaka Baru, 2003)
Moch. Nur Ichwan, Meretus Kesarjanaan al Qur’an: Teori Hermeneutika Aby Zayd,
(Jakarta: teraju, 2003)

 

 

 


‘* Makalah dipresentasikan dalam diskusi kelas mta kuliah Metodologo Studi Islam Program
Pascasarjana (S3) IAIN Snan Ampel Surabaya pada hari Minggu, 20 Nopember 2011 

1 Moch. Nur Ichwan, Meretus Kesarjanaan al Qur’an: Teori Hermeneutika Aby Zayd, (Jakarta:
teraju, 2003), 4.
2 Josef Blaicher, Hermeneutika Kontemporer: Hermeneutika sebagai Metode, Filsafat dan Kritik, terj. Ahman Norman Permata (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2003), 233-235.
3 “About Khaled Abou El Fadl ” dalam scholar of the house (online), (http./www. scholar
ofthehouse.org/ishictrib.html.
4 ibid